Akhir pekan lalu, team Food Escape mendapat kesempatan untuk menghadiri event Gelar Pesta Masakan Solo yang diadakan oleh restoran Dapur Solo dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun kota Solo yang ke-269 pada tanggal 17 Februari 2014 kemarin. Acara ini sengaja dibuat sebagai bentuk partisipasi Dapur Solo untuk lebih memperkenalkan macam kuliner khas Solo kepada khalayak ramai, sekaligus melestarikannya.
Diadakan di outlet Dapur Solo yang berlokasi di Panglima Polim, Kebayoran Baru, acara ini terselenggara atas kerja sama restoran tersebut dengan Jakartaseru.com. Ibu Swandari Kumarga selaku founder atau pendiri Dapur Solo turun tangan sendiri dan menjamu kami semua sebagai tuan rumah dan memberikan banyak informasi tentang kuliner Solo secara mendetail dan antusias. 

Sekilas tentang Dapur Solo

25 tahun lalu, Ibu Swan yang lulusan Pariwisata Perhotelan adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memulai usaha di garasi rumahnya dengan menjual rujak yang memang merupakan salah satu makanan kesukaan beliau. Ibu Swan mempromosikan dan menjual rujaknya dari rumah ke rumah dengan sepeda dan mengajak serta anaknya yang saat itu masih berusia 1,5 tahun. Tapi bukan usaha namanya kalau tidak ada halangan dan rintangan, setelah 3 bulan pertama, penjualan mulai menurun, dan atas saran suaminya, ibu Swan mulai menjual gado-gado dan membuka kedai kecil di garasinya. Semakin lama, usahanya semakin populer dan setelah suaminya bergabung, mereka membangun restoran yang sekarang kita kenal sebagai Dapur Solo.
Dapur Solo sendiri sekarang sudah memiliki 4 outlet; 2 di Sunter, 1 di Panglima Polim (Jakarta Selatan), 1 di Serpong, dan berikutnya outlet ke-5 yang akan dibuka di Matraman (Jakarta Timur) pada bulan Juni 2014.

Ibu Swan Kumarga (pendiri Dapur Solo) & Ibu Catur Guna (Jakartaseru.com)
Hidangan yang disajikan pun beraneka ragam, mulai dari menu berat seperti nasi, sampai jajanan pasar yang menggugah selera. Uniknya, walaupun bahan baku masakan Solo itu kira-kira sama dengan masakan Indonesia yang sudah kita kenal pada umumnya, tapi cara pembuatan atau penyajiannya berpengaruh besar terhadap hasil akhirnya, lho! Simak aja liputan asyik kami di bawah ini :)
Nasi Langgi Kuning Spesial
Terdiri dari nasi kuning, ayam/empal goreng, terik daging, sambal goreng kentang, abon sapi, telur dadar tipis, serundeng kelapa, kering kentang, lalap dan sambal. Nasi langgi ini merupakan salah satu masakan Solo yang sudah terkenal di Indonesia maupun mancanegara, tapi ini pertama kalinya saya mencoba versi nasi kuningnya (di Dapur Solo ini, juga tersedia nasi langgi dengan nasi putih biasa). Porsinya nendang banget, mengenyangkan dan rasanya juga memuaskan. Favorit saya di sini adalah kering kentangnya yang terasa sekali bumbunya, sangat garing dan tidak terlalu berminyak. Nasi Langgi ini juga merupakan menu paling populer dari Dapur Solo, dan menurut Ibu Swan sendiri, menu ini bisa bertahan hingga 8 jam sehingga aman dipesan untuk keperluan lunch boxes atau meeting/event dengan jam panjang.

Nasi Liwet Solo
Terdiri dari nasi liwet, suwiran daging ayam, hati dan ampela ayam, telur pindang, sambal goreng labu, tahu dan kuah opor. Nasi liwet sendiri sudah sangat terkenal di seluruh penjuru Indonesia dan juga di berbagai negara di dunia. Apa sih nasi liwet itu? Berbeda dengan nasi biasa, nasi liwet adalah  beras yang dimasak dengan santan dan kaldu ayam sehingga rasanya gurih dan meresap. Di Dapur Solo, menu nasi liwet ini merupakan salah satu menu favorit dan khasnya, ada bumbu putih yang ternyata merupakan bumbu aren asin. Disajikan bersama lauk pauk yang beraneka warna dan ragam, membuat nasi liwet susah dilewatkan untuk disantap!
Lontong Solo
Tidak jauh berbeda dengan hidangan lontong dari daerah lainnya di Indonesia, masakan ini pun sarat dengan kuah kuning dari opornya, sambal goreng kentang, telur pindang, bubuk kedelai dan bumbu cerpeh. Bumbu cerpeh ini merupakan highlight dari lontong Solo ini, terbuat dari kelapa yang disangrai dan ditumbuk halus, lalu dibumbui dengan gula merah dan daun jeruk. Di gambar di bawah ini, bisa dilihat bumbu cerpeh yang berwarna coklat, walaupun sedikit saja, tapi rasanya sangat enak.

Selat Solo
Terdiri dari daging sapi, selada, kentang, wortel, buncis, telur pindang, keripik kentang dan acar ketimun, ditambah dengan saus mustard. Menurut saya, masakan ini rasanya super unik dan enak banget, walaupun fitur utamanya adalah daging sapi yang lumayan “berat”, tapi sausnya menyeimbangkan rasa keseluruhannya karena cukup ringan. Dengan potongan kentang dan sayur-sayuran, masakan ini sekilas terlihat seperti hidangan dunia Barat, dan terbukti memang Selat Solo merupakan “salad Solo”, yaitu adaptasi dari hidangan Eropa dengan gaya Jawa. Uniknya lagi, untuk masyarakat Solo sendiri, masakan ini dimasukkan dalam kategori snack sore karena dihidangkan tanpa nasi, padahal menurut saya, sepiring Selat Solo ini sudah sangat mengenyangkan, lho!


Tengkleng Kambing

Daging iga kambing dengan rempah-rempah tradisional khas Solo ini sungguh menarik saat disajikan. Dengan potongan daging yang terlihat empuk dan tebal, dihias potongan cabai orange, rasanya tidak kalah dengan tampilannya. 

Selain hidangan di atas, kami juga berkesempatan mencicipi 3 macam hidangan khas Solo lainnya yang  akan dimasukkan sebagai hidangan baru di Dapur Solo, yaitu Cabuk Rambak, Brambang Asem, dan Bubur Lemu. Sebagai pembuka, saya harus mengatakan, saya senang sekali bisa mencoba ketiga hidangan ini karena rasanya yang unik, mengejutkan dan merupakan pengalaman yang sama sekali baru untuk saya!

Cabuk Rambak

Ini merupakan hidangan favorit saya di hari itu, karena rasanya yang luar biasa di balik penampilannya yang biasa. Terbuat dari potongan ketupat nasi yang disiram saus wijen dengan campuran kacang kedelai dan kelapa parut yang sudah disangrai, mungkin hidangan ini terlihat tidak ada istimewanya. Saat saya mencobanya, saya langsung terpukau dengan harum dan kuatnya rasa dari saus yang terlihat seperti saus kacang itu. Di dalam saus tersebut juga dimasukkan potongan-potongan daun jeruk yang memang sudah terkenal beraroma wangi, namun tidak disangka rasanya bisa seenak itu. Adapun untuk istilah “rambak”, ini berasal dari kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi. Tapi karena di beberapa daerah, orang tidak terlalu suka dengan rambak, maka dihidangkan bersama kerupuk karak gendar Bratan (disebut demikian karena berasal dari daerah Bratan) yang terbuat dari beras. Sepiring cabuk rambak ini sangat enak dinikmati sebagai kudapan. Saya sangat beruntung bisa mencoba hidangan ini karena konon cabuk rambak sudah jarang bisa ditemukan bahkan di tempat kelahirannya sendiri, Solo.

Brambang Asem

Nah, selain cabuk rambak, masakan ini juga sangat menggiurkan. Bahan dasarnya adalah daun ubi jalar/ketela rambat (disebut jlegor di Solo) yang direbus, kemudian disiram dengan saus yang merupakan campuran dari gula Jawa, asem Jawa, terasi dan bawang merah yang disangrai. Seperti belum cukup ragamnya, ditambahkan juga tempe gembus yang terbuat dari ampas tahu yang difermentasi, dan juga karak Bratan yang sudah dibahas di atas. Daunnya sendiri lumayan enak, segar dan tidak pahit, dan yang terpenting, memiliki khasiat yang menyehatkan, seperti misalnya: memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, kaya serat juga vitamin dan mineral. Sausnya sangat medok dan tempenya enak, tidak terasa seperti tahu walaupun terbuat dari ampas tahu. Seperti halnya cabuk rambak, Brambang Asem ini pun sudah hampir punah di tempat asalnya, jadi beruntunglah saya karena sempat mencobanya!

Bubur Lemu

Bubur Lemu yang sering kita temukan di pasaran mungkin bukanlah bubur lemu Solo, karena bedanya di sini adalah bahan utamanya yaitu beras. Bubur Lemu Solo dibuat dari beras jenis mentik susu yang dimasak dengan santan sampai kental dan gurih. Bubur tersebut biasanya dihidangkan dengan kuah opor kuning, tahu, sambal krecek, telur pindang dan sebagainya. Sambal kreceknya terbuat dari rambak dan kacang tolo, sedap banget kalau ditambahkan ke bubur lemu yang sudah diberi kuah. Kalau ditanya rasanya? Wah, dijamin enak menggoyang lidah! Ini adalah hidangan favorit Mr. K hari itu, mengutip katanya: sangat mantap dan terasa banget semuanya.

Tak lupa kami juga mencoba aneka kudapan dan jajanan pasar yang disediakan di meja prasmanan. Bentuknya unik-unik dan beberapa terlihat asing, untunglah Ibu Swan dengan senang hati berbagi pengetahuan dengan peserta acara.

Pastel

Ini sih sudah pasti salah satu makanan ringan favorit kita semua, di sini pastelnya lumayan besar dengan isi yang cukup banyak. Kulitnya garing dan renyah, pastel ini juga bisa dipesan untuk acara-acara seperti arisan, reuni, meeting dan sebagainya dalam paket snack boxes atau juga kue nampan untuk pesta.

Jadah Blondo

Makanan ini terbuat dari ketan yang dikukus lalu dicampur dengan kelapa yang kemudian ditumbuk untuk jadahnya dan “blondo” berarti ampas minyak kelapa yang dibuat dari santan yang diaduk selama berjam-jam sampai kering. Di Jogja, blondo ini bisa dibuat bahan gudeg, terutama di pusat gudeg Wijilan.

Semar Mendem
Snack yang satu ini bentuknya unik, tapi ini merupakan modifikasi, karena pada dasarnya semar mendem ini mirip dengan lemper, menggunakan bahan nasi ketan yang diisi dengan suwiran ayam. Bedanya di sini adalah lapisan telur dadar di luarnya, lalu disiram dengan santan kental atau areh yang dimasak dengan maizena, rasanya gurih dan bikin ketagihan. Saking enaknya, Semar (salah satu tokoh perwayangan Jawa) pun mendem (mabuk).

Sosis Solo

Seperti Selat Solo, makanan ini juga merupakan adaptasi dari makanan Eropa dengan gaya Jawa. Diisi daging ayam, kemudian dibalut dengan lapisan telur dadar tipis kemudian dikukus, membuat sosis Solo terlihat lucu dan menggemaskan. Selain versi kukusnya, ada juga sosis Solo yang digoreng. Sangat sederhana tapi tetap enak untuk cemilan.

Mendut

Sebagai penggemar klepon, saya sangat suka dengan mendut ini karena rasanya yang mirip. Menurut Ibu Swan, mendut yang disajikan di acara ini merupakan hasil modifikasi. Dibuat dari singkong yang dibentuk bulat-bulat, mendut biasanya diisi dengan kelapa gula dan disiram lagi dengan santan atau areh. Di acara ini, bahan dasarnya dibuat dari ubi ungu, saya suka sekali dengan rasa mendut modif ini, apalagi dengan warna ungunya yang cantik dan modern.

Meniran

Meniran ini surprisingly mengambil hati saya sejak gigitan pertama. Bagaimana tidak? Teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih benar-benar memanjakan lidah saya. Padahal meniran ini terbuat dari “sisa” beras yang sudah tidak terpakai lagi, maksudnya? Saat beras ditampa, banyak butiran yang jatuh atau biasa disebut “beras patah”, setelah dimasak dengan santan dan daun pandan, terlahirlah makanan ringan ini.


Jajanan Pasar

Terdiri dari tiwul (singkong yang dicampur dengan gula Jawa), grontol (butiran jagung rebus dengan taburan kelapa parut), cenil (cemilan tepung singkong yang direbus dan diberi warna), sawut singkong (parutan singkong rebus), dan juga ketan hitam rebus yang ditaburi parutan kelapa di atasnya. Sejujurnya, saya kurang suka dengan jajanan pasar ini karena terasa hambar dan kering. 

Sekarang saat saya menulis post ini, baru teringat ya betapa banyaknya hidangan kuliner khas Solo yang disediakan dan diperkenalkan di acara tersebut. Setelah mencoba semua macam masakan di atas, tibalah giliran minuman dan aneka dessert yang kelihatan cantik dan enak.
Bubur Solo
Bubur ini terbuat dari pacar Cina dan butiran jagung manis yang kemudian disiram dengan santan saat dihidangkan. Sebenarnya ini adalah menu baru hasil kreasi chef catering Dapur Solo, namun tidak disangka, menu ini mendapat respons yang sangat positif dari rekan blogger dan media yang berada di tempat. Menurut saya, memang menu ini patut mendapat acungan jempol karena meskipun bahannya sederhana dan mudah didapat, tapi dapat diolah menjadi menu dessert yang cantik dan nikmat, dan disukai semua kalangan!

Wedang Ronde

Kalau ronde dan kawan-kawannya, memang sudah jadi kesukaan saya sejak kecil. Alangkah senangnya saya ketika melihat semangkuk besar ronde di meja prasmanan sudah menanti dengan cantiknya. Wedang ronde ini disajikan dengan kacang tanah dan irisan buah atap merah kemudian disiram dengan kuah wedang jahe. Untuk rondenya sendiri, terbuat dari tepung ketan dan berisi kacang tanah dan wijen, sangat pas kekenyalannya dan isinya pun enak sekali. Kuah wedangnya sangat kuat rasa jahenya tapi hambar. Meskipun terasa pas ketika dimakan bersama ronde, tapi saya lebih suka kalau kuahnya juga sedikit manis.

Es Dawet Daun Suji

Ahhh, saya suka sekali dengan es dawet yang kental daun sujinya! Waktu memakannya, saya seperti dibawa bernostalgia ke masa lalu di mana ibu saya sering membuat es cendol dengan daun suji yang banyak sehingga wangi dan cantik hijaunya. Konsistensinya juga pas dan tidak terlalu lembek, dengan gula yang pas manisnya, pokoknya recommended banget deh!

Wedang Uwuh

“Uwuh” berarti “sampah”, karena minuman ini berisi aneka dedaunan herbal yang terlihat seperti sampah, misalnya daun pala, daun kayu manis, daun cengkeh dan sebagainya. Meskipun demikian, wedang uwuh ini merupakan minuman sehat yang enak sekali dinikmati setiap hari apalagi di musim hujan seperti sekarang ini. Dengan bahan dasar jahe, berkhasiat untuk mencegah masuk angin, menghangatkan badan, melancarkan peredaran darah, membuat tidur nyenyak, dan good news, ladies, minuman ini juga bisa untuk menghaluskan kulit. Warna kemerahannya berasal dari batang secang, yang merupakan bahan lainnya dari wedang uwuh ini. Rasanya pun manis dan pedas, juga sangat wangi aromanya.

Menurut saya, acara seperti ini sangat menyenangkan dan bermanfaat sekali terutama untuk memperkenalkan lebih jauh budaya yang ada di tanah air kita. Memang generasi kita sekarang cenderung kurang mengapresiasi budaya lokal karena mungkin pengetahuan yang kurang dan semakin banyaknya invasi budaya luar, bukannya buruk tapi kalau kita mau mencari tahu apa yang ada di sekitar kita, mungkin banyak yang bisa dinikmati dan digali lagi dan tidak kalah lho dengan budaya dari luar. Untuk saya pribadi, acara ini membawa banyak ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan secara cuma-cuma, selain kuliner khas Solo, saya juga jadi lebih terpacu setelah mendengar tentang jatuh bangun ibu Swan dalam mendirikan Dapur Solo. =)
Terima kasih dan selamat ulang tahun, kota Solo! :D
Follow Us
Twitter: @FoodEscape
Instagram: @foodescape_id
Dapur Solo
Jl. Panglima Polim I No. 95
Jakarta Selatan
Ph. +62 21 7222 311
Wi-fi: Available